Persepsi Konsumen Terhadap Suatu Produk

•November 30, 2010 • Leave a Comment

BAB I

PENDAHULUAN

Cara pandang seorang konsumen tehadap suatu produk apakah produk tersebut baik atau buruk secara kualitas, harga, bentuk, dan manfaat sebelum ia mengambil keputusan pembelian. Produk musiman tentunya dibutuhkan orang pada musim-musim tertentu, dari sanalah tentunya seorang  produsen berusaha untuk memenuhi permintaan konsumen. Berikut adalah sebagian besar produk musiman di Indonesia. contoh;Terompet, pohon natal, rambutan, mangga, ketupat, sapi, bendera, kurma.

Dari data di atas dapat kita ketahui bahwa setiap produk yang dijual itu mempunyai waktunya masing-masing. Seorang produsen terompet tentunya tidak akan menjual terompetnya pada bulan maret, atau bulan-bulan lainnya selain bulan desember, karena konsumen mempunyai persepsi bahwa terompet itu baru ada manfaatnya saat tahun baru tiba, sesudah dari itu terompet tidak ada gunanya lagi. Produsen yang memproduksi terompet harus menyiasati bagaimana agar produknya bisa laku terjual sebelum tahun baru tiba. Karena kalau produk itu tidak terjual tentunya ia akan mengalami kerugian atau setidaknya bila awet bias saja dijual kembali tahun depan.

Lain halnya dengan terompet, konsumen mempunyai persepsi yang berbeda terhadap rambutan, mangga dan kurma. Pada musimnya pada umumnya buah-buah tersebut mudah dijumpai di pasaran. Hal itu yang membuat harganya murah, namun ada kalanya seseorang ingin mengkonsumsi buah-buah tersebut padahal belum musimnya. Kalaupun ada yang menjual pastilah harganya relatif mahal, tapi orang yang benar-benar menginginkannya tentu akan rela mengeluarkan uang berapapun. Sehingga persepsi konsumen ini terbentuk karena faktor kebutuhan.

 

BAB II

PEMBAHASAN

Ries dan Trout (1987) mengatakan bahwa pemasaran adalah peperangan antara produsen untuk merebutkan persepsi konsumen. Demikian pentingnya persepsi di benak konsumen, sehingga bermaca-macam strategi di rancang perusahaan supaya produk dan mereknya bisa menjadi no satu di benak konsumen.

Kepuasan Konsumen

Zeithamal (2004) merumuskan kepuasan konsumen sebagai “costomer’s evaluation of a product or service in terms of whether that product or service has met their needs and expectation”. Dengan demikian kepuasan konsumen merupakan perilaku yang terbentuk terhadap barang atau jasa sebagai pembelian produk tersebut. Kepuasan konsumen ini sangat penting karena akan berdampak pada kelancaran bisnis atau perusahaan. Pelanggan yang merasa puas akan jasa / produk yang digunakannya akan kembali menggunakan jasa / produk yang ditawarkan. Hal ini akan membangun kesetiaan pelanggan.

Kepuasan konsumen sendiri diartikan sebagai suatu keadaan dimana harapan konsumen terhadap suatu produk sesuai dengan kenyataan yang diterima oleh konsumen tersebut tentang kemampuan produk tersebut. Jika produk tersebut jauh dibawah harapan konsumen maka ia akan kecewa. Sebaliknya jika produk tersebut memenuhi harapan konsumen, maka ia akan senang. Harapan-harapan konsumen ini dapat diketahui dari pengalaman mereka sendiri saat menggunakan produk tersebut, omongan-omongan orang lain, dan informasi iklan yang dijanjikan oleh perusahaan yang menghasilkan produk tadi.

Konsep Presepsi

Schifmann dan kanukk (2000) menyebutkan bahwa persepsi adalah cara orang memandang didunia ini.dari definisi umum yang dapat dilihat bahwa persepsi seseorang berbeda dari yang lainnya. Cara memandang dunia sudah pasti dipengaruhi oleh sesuatu dari dalam maupun luar orang tua itu.

Solomon (1999) mendefinisikan persepsi sebagai proses dimana sensi yang diterima oleh seseorang yang dipilah dan dipilih, kemudian diatur dan di interprestasikan. Maka, dapat di simpulkan bahwa persepsi adalah interpretasi proses dimana konsumen memahami lingkungan mereka sendiri. Banyak orang percaya bahwa persepsi adalah pasif atau sebaliknya yang kita lihat dan mendengar apa yang diluar sana sangat objektif.

Namun, pada kenyataannya orang benar-benar aktif mempersepsikan stimuli dan objek di sekitar lingkungan mereka. Customer melihat apa yang mereka harapkan untuk melihat dan apa yang mereka harapkan untuk melihat tergantung pada kepercayaan umum dan stereotip. Dan karena setiap kelompok (segmen) dan individu memiliki kepercayaan umum dan stereotype yang berbeda-beda sehingga menimbulkan persepsi terhadap suatu lingkungan pemasaran juga menjadi beragam. Oleh karena itu, marketer harus menyadari perbedaan tersebut agar dapat menyesuaikan stimuli pemasaran (yakni iklan, kemasan, harga dll) dengan persepsi mereka sehingga sesuai dengan segmen yang ditargetkan

Persepsi Kualitas Merek ( Brand Perceived Quality )

Persepsi kualitas ini akan membentuk persepsi kualitas dari suatu produk yang dapat menetukan nilai dari produk tersebut dan berpengaruh secara langsung kepada keputusan pembelian konsumen dan loyalitas mereka terhadap merek. Karena persepsi kualitas merupakan persepsi konsumen maka dpat diramalkan jika persepsi kualitas pelanggan negatif, produk tidak akan disukai dan tidak akan bertahan lama dipasar. Sebaliknya, jika persepsi kualitas positf maka produk akan disukai.

Persepsi kualitas dapat didefinisikan sebagai persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh pelanggan. Persepsi pelanggan akan melibatkan apa yang penting bagi pelanggan karena setiap pelanggan memiliki kepentingan (yang diukur secara relatif) yang berbeda-bada terhadap produk. Maka, dapat dinyatakan bahwa membahas persepsi kualitas akan membahas keterlibatan dan kepentingan pelanggan.

Sebagai ilustrasi misalkan di ambil produk telepon genggam (HP). Di pasar terdapat beberapa merek seperti Blackbery, Nokia, Samsung, LG, Motorola dengan berbagai tipe. Setiap merek mempunyai bagian-bagian tambahan atau atribut dan kelebihan masing-masing (feature). Persepsi kualitas pelanggan terhadap produk ini  akan melibatkan kepentingan setiap pelanggan dan atau artibut yang dimiliki produk (kepentingan setiap produk berbeda ).  Persepsi kualitas juga berlaku untuk jasa pelayanan yang melibatkan dimensi kualitas jasa seperti waktu tunggu, keramahan petugas, kenyamanan ruangan dan lainnya. Mengingat kepentingan dan keterlibatan berbeda-beda, persepsi kualitas perlu di nilai berdasarkan sekumpulan kriteria yang berbeda. Persepsi kualitas yang tinggi bukan berarti harapan pelanggan rendah ( pelanggan merupakan kepuasan yang tinggi jika harapannya jauh lebih rendah dari kinerja atau kenyataan ). Persepsi kualitas mencerminkan perasaan pelnggan secara menyeluruh mengenai suatu produk. Untuk memahami persepsi kualitas suatu merek diperlukan pengukuran terhadap dimensi yang terkait dengan karakteristik produk.

Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi Kualitas

Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi persepsi kualitas, mengapa pelanggan percaya bahwa beberapa beberapa merek mempunyai persepsi kualitas yang tinggi atau rendah. Bagaiman membangun suatu persepsi kualitas yang positif dan kuat, faktor apa saja yang digunakan pelnggan untuk menilai kualitas secara keseluruhan dan sebaginya. Jawaban di atas tergantung pada dimensi persepsi kualitas dan konteksnya. Sebagai contoh dimensi terkait denga telepon genggam adalah kualitas suara, kualitas sinyal, kualitas baterai, kehandalan layanan reparasi atau pelayanan/ service dan biayanya serta ketersedian asesoris. Untuk mengetahui dimensi-dimensi tersebut biasanya dilakukan riset dan pelanggan akan ditanya mengapa dimensi suatu merek mempunyai kualitas yang lebih tinggi dibandingan dengan merek lainnya. Adapun dimensi persepsi kualitas mengacu pada pendapat David. A. Garvin, dimensi persepsi kualitas terbgi tujuh yaitu ;

1.      Kinerja : Melibatkan bebagai karakteristik operasional utama

2.      Pelayanan : Mencerminkan kemampuan memberikan pelayanan pada produk tersebut

3.      Ketahanan : Mencerminkan umur ekonomis dari produk

4.      Keandalan : Konsistenisi dan kinerja yang dihasilkan suatu produk dari suatu pembelian ke pembeli berikutnya

5.      Karateristik Produk : Bagian-bagian tambahan dari produk / feature

6.      Kesesuain dengan Spesifikasi : Merupakan padangan mengenai kulitas proses manufaktur (tidak ada cacat motor) sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan dan teruji.

7.      Hasil :  Mengarah pada kualitas yang dirasakan yang melibatkan enam dimensi sebelumnya

 

Strategi Pemuas Kebutuhan Konsumen

  • Perusahaan harus mengetahui kebutuhan dan keinginan pasar sasarannya tersebut, misalnya motif konsumen dalam membeli produk dan manfaat (inti ataukah tambahan) produk yang dibelinya tersebut.
  • Mencari tahu bagaimana proses pengambilan keputusan dalam membeli suatu produk. Proses ini biasanya didahului oleh munculnya kebutuhan yang dirasakan konsumen, kemudian konsumen akan mencari informasi yang nantinya akan muncul kriteria evaluasi yang dapat digunakan untuk mengavaluasi produk alternatif produk.
  • Konsumen akan melakukan evaluasi terhadap masing-masing alternatif produk dan memilih salah satu produk yang dianggap paling baik.
  • Konsumen akan melakukan pemilihan toko dan melakuakn pembelian. Namun demikian, tidak semua pembelian mealalui tahap keputusan diatas. Dalam memprediksi faktor yang mempengaruhi konsumen dalam memuputuskan pembelian, memilih cara pelayanan penjualan yang tepat dan menentukan saluran distribusi yang akan dipergunakan ;
  • Membangun citra yang baik dalam benak konsumen, baik citra merek maupun citra perusahaan. Untuk membengun citra merek atau perusahaan yang baik, perlu memperhatikan proses informasi yang membentuk persepsi konsumen tentang produk perusahaan. Terbentuknya persepsi tersebut dimulai oleh perusahaan, baik berupa iklan, penampilan produk ataupun pengemasan (packing). Jika rangsangan tersebut dapat menarik perhatian konsumen, mereka akan memproses interpensi atau rangsangan yang diterima. Persepsi akan baik atau positif, jika ransangan tersebut mempunyai arti baik. Demikian pula sebaliknya
  • Dan langkah yang terkahir untuk dapat memuaskan konsumen adalah  menimbulkan kesadaran diantara semua bagian (unit) yang ada dalam perusahaan akan pentingnya kepuasan konsumen, bagi kelangsungan hidup perusahaan

 

Terdapat Tiga tahap dalam pembentukan persepsi customer, yaitu :

Tahap 1 : Sensasi

Sensasi adalah suatu proses penyerapan informasi mengenai suatu produk yang melibatkan panca indra kastemer (pendengaran, penglihatan, penciuman dan peraba). Pada tahap ini, customer akan menyerap dan menyimpan segala informasi yang diberikan ketika suatu produk ditawarkan atau dicoba. Misalnya ketika customer menonton iklan sebuah produk telepon selular terbaru di televisi. Customer akan memperhatikan segala informasi mengenai spesifikasi dan fungsi produk, termasuk fitur-fitur yang ditawarkan produk tersebut. Pada kasus ini, customer menggunakan indra penglihatan dan pendengaran dalam proses penerimaan informasi.

Tahap 2 : Organisasi

Organsasi adalah tahap dimana customer mengolah informasi yang telah ia dapatkan pada tahap sensasi. Customer akan membandingan antara informasi baru tersebut dengan informasi atau pengetahuan yang telah ia miliki sebelumnya mengenai produk telepon selular (informasi dan pengetahuan tersebut bisa didapat dari pengalaman atau media iklan lainnya seperti majalah, Koran). Kemudian customer akan mendapatkan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki produk tersebut serta nilai tambah yang bisa didapat.
Tahap 3 : Interpretasi

Interpretasi adalah pengambilan citra atau pemberian makna oleh customer terhadap suatu produk. Seperti pada contoh kasus sebelumnya mengenai suatu produk telepon genggam baru. Setelah pada tahap organisasi kastemer mendapatkan kelebihan dan kekurangan serta nilai tambah produk, maka akan tercipta citra atau makna khas yang melekat pada produk. Misalnya handphone Sony Ericsoson seri W identik dengan handphone Walkman.

BAB III

PENUTUP

SIMPULAN

Adapun tiga tahap dalam pembentukan persepsi customer yaitu sensai, organisasi dan interprestasi. Marketer harus menyadari perbedaan agar dapat menyesuaikan stimuli pemasaran (yakni iklan, kemasan, harga dll) dengan persepsi mereka sehingga sesuai dengan segmen yang ditargetkan. Dengan kata lain tugas pemasaran tidak hanya dilakukan oleh bagian pemasaran, tetapi menjadi tanggung jawab semua bagian. Jadi, usaha yang diharapkan dapat memberikan kepuasan bagi konsumen, pemilik (investor), maupun bagi para karyawan secara berkelanjutan

 

SARAN

Pengaruh terhadap persepsi konsumen sebaiknya digunakan dengan menggunakan konsep dimensi kualitas agar perusahaan bisa mengukur sejauhmana produk dapt diterima dipasar. Namun setelah itu penelitianpun di bandingkan oleh perusahaan yang sejenis.

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Anthie. 25 November 2010. Persepsi Konsumen Terhadap Suatu Produk. URL : http://anthie-beauty.blogspot.com
  • Diasmanto, Hermawan. 25 November 2010. Peta Persepsi Konsumen Terhadap Produk. URL : http://kulinet.com
  • Durianto, Darmadi, dkk. 2001. Strategi Penakluk Pasar Melalui Riset Ekuitas dan Perilaku Merek. Edisi Kedua. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
  • Sutarminingsi, Lilies. 2004. Teknologi Pengelolahan Pangan Peluang Usaha Nata De Coco. Edisi Pertama. Yogyakarta : Kanisius

Memahami konsumen

•November 2, 2010 • Leave a Comment

MEMAHAMI KONSUMEN

BAB I

PENDAHULUAN

Perilaku konsumen adalah Proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan. Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian. Untuk barang berharga jual rendah (low-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan mudah, sedangkan untuk barang berharga jual tinggi (high-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan dengan pertimbangan yang matang.

Maka dari itu sebagai produsen kita harus bener-benar bisa memahami keinganan konsumen sehingga konsumen tersebut akan kembali untuk membeli barang produk tersebut. Untuk mengetahui keinginan pangsa pasar perlu adanya pemahaman perilaku konsumen yaitu tugas penting bagi para pemasar. Tugas para pemasar untuk mencoba memahami perilaku pembelian konsumen agar mereka dapat menawarkan kepuasan yang lebih besar kepada konsumen. Tapi bagaimanapun juga titik jenuh konsumen terhadap produk yang pasti akan mengalami kejenuhan. Bahkan diantara beberapa pemasar masih ada yang belum menerapkan konsep pemasaran sehingga mereka tidak berorientasi pada konsumen dan tidak menyadari tujuan utama adalah kepuasan konsumen. Lebih jauh lagi karena alat menganalisis perilaku konsumen tidak pasti, para pemasar kemungkinan tidak mampu menetapkan secara akurat apa sebenarnya yang dapat memuaskan para pembeli. Sekalipun para pemasar mengetahui faktor yang meningkatkan kepuasan konsumen, mereka belum tentu bisa memenuhi faktor tersebut.

Seringkali kita mendengarkan kata klasik yang berulang-ulang dari pembisnis besar dan kecil: “pembuatannya mudah, tetapi yang penting bagaimana cara memasarkannya?”. Karena perannya yang strategis, tidak heran pemasaran menjadi isu penting dalam bisnis. Maka dari itu tujuan dari pembahasan ini untuk bisa membantu produsen lebih bisa memahami dan menempatkan lokasi pangsa pasar sesuai dengan target market dan target audience.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1        Siapakah konsumen

Menurut pengertian Pasal 1 angka 2 UU PK, “Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga,, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.” Anda tentu memahami bahwa tidak semua barang setelah melalui proses produksi akan langsung sampai ke tangan pengguna. Terjadi beberapa kali pengalihan agar suatu barang dapat tiba di tangan konsumen. Biasanya jalur yang dilalui oleh suatu barang adalah:

 
Untuk sampai produk hingga pengguna terakhir masih banyak lagi jalur yang digunakan  tergantung pengguna terakhir yang membutuhkan jalur mana yang mereka inginkan. Perusahaan bisa menjual barang atau jasa yang dipasarkan dan dijual kepada ‘orang’ dan ‘bukan orang’. Yang dimaksud ‘bukan orang’ di sini bisa perusahaan atau organisasi yang di belakangnya tentu digerakkan oleh ‘orang’. Di antara jutaan orang atau konsumen, tidak ada satu pun yang sama. Masing-masing orang dan konsumen adalah unik.

Karena konsumen selalu berkeinginan untuk mengoptimalkan pemenuhan kebutuhannya dengan keterbatasan sumber daya yang dimilikinya, keragaman konsumen bisa ditinjau dari segi kebutuhan dasar yang memotivasi perilaku belanjanya. Melalui teori motivasi McClelland Theory of Learned Neeeds, David McClelland mengungkap adanya tiga kebutuhan dasar yang memotivasi seseorang untuk berperilaku yaitu: Needs for achievement, needs for affiliation dan needs for power.

Needs for achievement akan mendorong seseorang untuk bekerja keras mencapai cita-citanya. Needs for affiliation diwujudkan dalam bentuk menjalin hubungan personal dengan lingkungannya. Needs for power merupakan kebutuhan seseorang untuk mengontrol orang-orang di sekitarnya, termasuk konsumen lainnya, dan bahkan juga perusahaan pemasarnya.

Dengan memahami berbagai motivasi konsumen tersebut, pemahaman perilaku konsumen bisa dilakukan dengan lebih cermat. Tindak lanjutnya atas pemahaman motivasi dan perilaku konsumen tidak selalu dilakukan melalui pemenuhan ekspektasi konsumen. Bisa jadi yang dilakukan justru mentransformasi konsumen.

2.2        Aplikasi Pemahaman Konsumen

Pemahaman akan perilaku konsumen dapat diaplikasikan dalam beberapa hal yaitu;

1.      Untuk merancang sebuah strategi pemasaran yang baik, misalnya menentukan kapan saat yang tepat perusahaan memberikan diskon untuk menarik pembeli.

2.      Perilaku konsumen dapat membantu pembuat keputusan membuat kebijakan publik, misalnya dengan mengetahui bahwa konsumen akan banyak menggunakan transportasi saat lebaran, pembuat keputusan dapat merencanakan harga tiket transportasi di hari raya tersebut.

3.      Pemasaran sosial (social marketing), yaitu penyebaran ide di antara konsumen. Dengan memahami sikap konsumen dalam menghadapi sesuatu, seseorang dapat menyebarkan ide dengan lebih cepat dan efektif.

2.3        Pendekatan dalam meneliti perilaku konsumen

 

Terdapat tiga pendekatan utama dalam meneliti perilaku konsumen  yaitu;

1.      Pendekatan Interpretif

Pendekatan ini menggali secara mendalam tentang perilaku konsumsi dan hal yang mendasarinya. Studi dilakukan dengan melalui wawancara panjang dan focus group discussion untuk memahami apa makna sebuah produk dan jasa bagi konsumen dan apa yang dirasakan dan dialami konsumen ketika membeli dan menggunakannya.

2.      Pendekatan tradisional yang didasari pada teori dan metode dari ilmu psikologi kognitif, sosial, dan behaviorial serta dari ilmu sosiologi

Pendekatan ini bertujuan mengembangkan teori dan metode untuk menjelaskan perliku dan pembuatan keputusan konsumen. Studi dilakukan melalui eksperimen dan survey untuk menguji coba teori dan mencari pemahaman tentang bagaimana seorang konsumen memproses informasi, membuat keputusan, serta pengaruh lingkungan sosial terhadap perilaku konsumen.

3.      Sains marketing yang didasari pada teori dan metode dari ilmu ekonomi dan statistika.

Pendekatan ini dilakukan dengan mengembangkan dan menguji coba model matematika untuk memprediksi pengaruh strategi marketing terhadap pilihan dan perilaku konsumen.

Ketiga pendekatan sama-sama memiliki nilai dan tinggi dan memberikan pemahaman atas perilaku konsumen dan strategi marketing dari sudut pandang dan tingkatan analisis yang berbeda. Sebuah perusahaan dapat saja menggunakan salah satu atau seluruh pendekatan, tergantung permasalahan yang dihadapi perusahaan tersebut

2.4        Roda Analisis Konsumen

adalah kerangka kerja yang digunakan marketer untuk meneliti, menganalisis, dan memahami perilaku konsumen agar dapat menciptakan strategi pemasaran yang lebih baik. Roda analisis konsumen terdiri dari tiga elemen: afeksi dan kognisi, lingkungan, dan perilaku.

 

2.5        Harapan Konsumen

Cara terbaik untuk mengetahui harapan apa yang konsumen inginkan adalah bertanya langsung kepada mereka. Dalam bentuk pengambilan data formulir atau angket sederhana (multiple choice or simple essay) dan wawancara lansung dapat memberikan kita banyak informasi lebih akurat jika survey yang dilakukan dengan jumlah reseponden yang cukup banyak. Mintalah konsumen untuk memberi penilaian dari yang sangat dibutuhkan sampai yang tidak begitu dibutuhkan. Produsen bisa memulai mengembangkan gambaran yang jelas tentang aspek bisnis apa dalam bisnis yang mereka anggap membutuhkan. Informasi servei dapat menentukan bagaimana kita menjalani bisnis dan mencegah adanya kekurangan resiko terhadap konsumen. Ketika sudah mengetahui harapan mereka, produsen dapat melakukan hal terbaik untuk memenuhi harapan tersebut, dan dapat mengkaji informasi secara objektif, terbuka dan yang paling penting beredia mengambil tindakan atas dasar umpan balik tersebut. Informasi ini juga dapat memberikan sampai mana kepuasan konsumen dan pengetahuan konsumen terhadap produk tersebut.

BAB III

PENUTUP

 

3.1        Kesimpulan

Pemasaran terkait dengan pemahaman atas pasar yang beragam dan upaya untuk berkomunikasi, berinteraksi dan memengaruhi persepsi konsumen. Penjualan terkait dengan pemahaman atas potensi berdagang dan upaya untuk menghasilkan transaksi. Keduanya sama-sama penting, saling berhubungan dan semestinya harus saling bersinergi. Kesadaran dan kemauan untuk melihat konsumen sebagai individu yang berbeda, dan itulah kunci pertama masuk pintu gerbang sukses pemasaran. Memahami konsumen hingga mencapai kepuasan konsumen adalah tujuan utama pemasar.

 

3.2        Saran

Untuk mengetahui apakah produk kita dapat di terima di masyarakat luas. Maka, perlu di adakan survey kepuasan konsumen untuk mengetahui sampai mana produk tersebut hingga mencapai kepuasan konsumen dan membandingkan produk tersebut dengan produk pemasar lain yang bisa menjadi barometer perusahaan tersebut.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

§    Joewono, Hadi Handito, 25/10/2010, Memahami Konsumen, URL :

http://www.ama-dki.org/articles/archives/2007/10/06/memahami_konsumen/

 

§    William, 27/10/2010, Pengertian Konsumen, URL :

http://williamfuture.blogspot.com/2010/04/pengertian-konsumen.html

 

§    Teddy, 27/10/2010, Faktor-faktor Yang Mempengarugi Konsumen, URL:

http://teddykw2.wordpress.com/2008/03/01/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-perilaku-konsumen/

 

§    Setawan, Budi, 31/10/2010,  Perilaku Konsumen, URL :

http://coebanif.wordpress.com

 

§    http://id.wikipedia.org/wiki/Perilaku_konsumen

 

 

SUPERHERO MOVIE

•August 29, 2008 • Leave a Comment

Setelah digigit oleh capung, pelajar SMA Rick Riker (Drake Bell) mengembangkan kemampuan manusia berkulit serangga (meskipun tak dapat terbang). Rick memutuskan untuk menggunakan kekuatan barunya untuk kebaikan dan mulai menggunakan jubah yang dikenal sebagai “Si Capung”. Meskipun demikian, ia harus berhadapan dengan penjahat Lou Landers (Christopher McDonald). Setelah ekperimennya tidak berjalan sebagaimana mestinya, Lou mengembangkan kekuatannya untuk mencuri kekuatan orang lain untuk keabadiannya sebagai “The Hourglass”

Melalui film ini, Rick mencoba menarik perhatian gadis impiannya (Sara Paxton), bertarung melawan Hourglass dan berhasil untuk terbang

superhero movie

superhero movie

Hello world!

•August 29, 2008 • 1 Comment

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.